Harga Gula Pasir Melambung saat Wabah Corona, Ini Solusi dari Bulog Lampung

80

HEADLINE LAMPUNG, BANDAR LAMPUNG – Miris. Saat Coronavirus Disease (Covid-19) mewabah dan perekonomian masyarakat menurun, harga gula pasir justru melambung melebihi harga acuan yang telah ditetapkan pemerintah.

Saat ini harga jual rata-rata gula pasir mencapai Rp 15.988 per kilogram.

Padahal, berdasarkan Permendag Nomor 7 Tahun 2020, harga acuan gula pasir di tingkat konsumen sebesar Rp 12.500 per kilogram.

Terkait hal itu, Gubernur Lampung Arinal Djunaidi mengunjungi Perum Bulog Divisi Regional Lampung, baru-baru ini.

Kepala Perum Bulog Divisi Regional Lampung, Faisal, mengakui kenaikan harga gula di saat wabah Covid-19.

“Komoditi gula pasir merupakan salah satu dari sembilan bahan pokok atau sembako,” ujarnya, Jumat (10/4/2020).

Berdasarkan data pengamatan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) dari Februari 2020, harga gula pasir terus mengalami kenaikan,  melebihi harga acuan yang telah ditetapkan pemerintah.

“Kenaikan harga ini diperkirakan merupakan dampak mundurnya musim giling tebu, serta kebutuhan menjelang bulan Ramadhan 1441 H,” kata Faisal.

Dijelaakan, tugas Perum Bulog menjaga stabilisasi harga, sesuai Perpres Nomor 48 Tahun 2016 sebagaimana diubah dalam Perpres Nomor 20 Tahun 2017, dan Permendag nomor 7 tahun 2020 tetap menjual gula pasir sesuai dengan harga acuan pemerintah, serta untuk menjaga ketersedian secara merata membatasi pembelian sebanyak dua kilogram per orang.

BACA JUGA:  Putus Covid-19, Gubernur Lampung Terbitkan SE Perayaan Nataru 2020-2021

“Sesuai instruksi Gubernur, Walikota dan Bupati, Bulog diperkuat dengan kerjasama Dinas Perdagangan, Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura, Satgas Pangan serta selanjutnya diikuti beberapa Kabupaten dan Kota,” urai Faisal.

Tetapi pencegahan pembentukan kerumunanan massa sebagai langkah penanggulangan meluasnya wabah covid 19 saat ini, menghalangi kegiatan tersebut untuk kembali dilaksanakan, sehingga harga gula saat ini masih tergolong tinggi dan masih di atas harga acuan yang ditetapkan.

“Kebutuhan menjelang Ramadhan serta situasi wabah Covid-19, membuat masyarakat terdorong untuk membeli komoditi secara lebih, menjadi efek domino kenaikan harga gula yang berlanjut,” terang Faisal.

Namun demikian, lanjut dia, berdasarkan data PIHPS, harga gula pasir di wilayah Lampung pada April 2020 dibandingkan Maret 2020 (mtm) mengalami kenaikan sebesar 4,24%, atau lebih rendah dari kenaikan harga Maret 2020 terhadap Februari 2020 (mtm) sebesar 14,90%.

Selain itu, masih berdasarkan sumber data yang sama per 8 April 2020, level harga gula pasir di wilayah Lampung sebesar Rp 16.667 per kologram, lebih rendah dibandingkan level harga gula tingkat nasional Rp 18.117 dan tingkat Sumatera Rp 17.158.

BACA JUGA:  Wagub Lampung: Hasil Rapid Test 79 Awak Media Seluruhnya Negatif Covid-19

Hal ini menunjukkan harga gula terpantau relatif lebih stabil.

“Meskipun masih lebih tinggi dari harga acuan pemerintah, tetapi mengindikasikan intervensi yang dilakukan pemerintah melalui kerjasama antarsektor, dapat menahan potensi laju kenaikan harga yang lebih tinggi lagi,” ujar Faisal.

Meskipun saat ini Operasi Gula Pasir telah dihentikan untuk mengurangi kerumunan, sesuai dengan instruksi untuk social distancing dan physical distancing, namun Perum Bulog Kanwil Lampung tetap berkomitmen untuk terus menyediakan gula pasir bagi masyarakat Lampung, sesuai harga acuan, sehingga masyakat tidak perlu merasa khawatir.

“Produk gula pasir dari Bulog dapat diperoleh di outlet-outlet yang bekerjasama, berbagai Toko Pangan Kita, Rumah Pangan Kita (RPK), atau langsung di  Kantor Perum Bulog di Cut Meuthia, serta juga telah bekerjasama dengan berbagai lembaga dan instansi untuk penyediaan gula dalam rangka kegiatan sosial,” terang Faisal. (Ayu)