Soal Pembongkaran Pagar Tugu Rato, Ini Kata Kadis PUPR Lampura

9

HEADLINELAMPUNG, LAMPUNG UTARA – Proyek pembongkaran pagar Tugu Rato yang terletak di dalam lokasi taman sahabat (TS) Lampung Utara (Lampura) dinilai warga mubazir.

Sebab, proyek pembongkaran pagar Tugu Rato tersebut tidak masuk skala prioritas yang dibutuhkan masyarakat Lampura dan terkesan hanya menghambur-hamburkan anggaran saja.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas PUPR Lampura, Syahrizal Adhar menjelaskan, proyek tersebut bukan pembongkaran Tugu Rato, ttapi ornamen pendukung.

“Tugu Rato tetap berdiri kokoh. Yang dibongkar hanya ornamen pendukung,” ujarnya, Selasa (8/12/2020).

Dijelaskan Syahrizal, ada empat proyek yang dikerjakan oleh bidang Cipta Karya dinas PUPR Lampura melalui pihak ketiga (Rekanan) pada penghujung tahun ini.

Ke empat paket proyek tersebut ialah, proyek Pembongkaran Pagar Tugu Rato,
proyek Pembangunan Gazebo yang berlokasi di taman wisata Way Tebabeng Lampura. Selanjutnya, Rehab Pos Jaga Pusiban Lampura dan Rehab Ruang Tunggu Anak yang berlokasi di pengadilan kotabumi.

BACA JUGA:  Peduli Covid-19, PT GPM Serahkan Bantuan Ambulance dan APD kepada Pemkab Lamteng

” Total anggaran ke empat proyek tersebut menghabiskan nilai anggaran mencapai 750 juta,” paparnya.

Masih Syahrizal, dirinya mengungkapkan, bila di katakan ke empat proyek tersebut mengenai persoalan prioritas atau tidak prioritas. Dirinya mengungkapkan dalam situasi sangat keterbatasan kita kesulitan untuk memilih

” Memilih A dan B saja kalau kita tidak memahami saja sulit, milih satu dalam dua pilihan saja sulit, apalagi ini memilih dari ratusan pilihan. Tapi, yang pastinya itu semua sangat bermanfaat untuk tahun 2020 ini, setidak-tidaknya ada pertumbuhan ekonomi masyarakat sehingga bertambah,” paparnya.

Saat disinggung mengenai pembangunan Tugu Rato dan ornamen pendungkungnya dibangun pada zaman
Bupati Lampung Utara Non-aktif, H. Agung Ilmu Mangkunegara (AIM) pada tahun 2017 silam.

BACA JUGA:  Sekda Tubaba Tinjau Gedung Perkantoran Baru, Rencananya Ditempati Empat Dinas dan Badan

Di tahun yang sama Syahrizal Adhar menjabat sebagai kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) bagaimana perencanaannya sehingga saat ini harus di hancurkan kembali, Syahrizal mengeluarkan istilah.

“Sama kayak kita dulu antara mau nikah dan tidak nikah, kalau kita tau dari akil baligh selesai, bahwa nikah itu enak, maka cepet-cepet akan nikah, setelah proses ada yang bilang ngapain nikah cepet-cepet itu gak enak, akan coba dahulu kedewasa dan pengalaman pengalaman baru usia 30 atau 35 baru menikah. Itu gambarnya,” tukasnya.

Diceritakan Syahrizal, ornamen Tugu Rato awalnya di konsep sangat indah, yakni adanya air mancur yang mengelilingi Tugu Rato, Air mancur tersebut menurutnya memberikan kesan dingin dan adem.

“Seiring waktu berjalan itu tidak maksimal fungsinya, bahkan dapat membahayakan,” pungkasnya.
(Rasul/Putra)