Lebih Satu Bulan, Kasus Dugaan Pencabulan SPG Hypermart Central Plaza di Polresta Bandar Lampung Mandek

16

HEADLINELAMPUNG, BANDAR LAMPUNG – Ironis. Seorang wanita yang bekerja sebagai Sales Promotion Girl (SPG) counter di Gerai Hypermart, Central Plaza, Bandar Lampung, mengaku dicabuli oknum anggota Satpam Hypermart pada 7 November 2020, sekira pukul 14.20 WIB.

Beberapa jam setelah kejadian, SPG berinisial T (21) tersebut melaporkan oknum anggota Satpam berinisial R itu ke Polresta Bandar Lampung, dengan Tanda Bukti Lapor Nomor TBL/LP/B-1/2433XI/LPG/SPKT/Resta Balam tanggal 7 November 2020, dalam kasus dugaan pencabulan dan perbuatan tidak menyenangkan.

Namun entah kenapa, hingga lebih dari satu bulan, sepertinya kasus tersebut belum diproses petugas Polresta Bandar Lampung.

Sebab itu, Kuasa Hukum T dari Kantor Law Firm Graha Yusticia, Bandar Lampung Yunika Hadiani dan Frisilia Sriis Devitasari meminta pihak Polresta Bandar Lampung untuk memaksimalkan penanganan kasus tersebut.

“Klien kami telah membuat laporan di Polresta Bandar Lampung beberapa jam setelah kejadian. Atas laporan tersebut, kami berharap pihak penyidik Polresta Bandar Lampung dapat memaksimalkan penanganannya, seperti ada saksi yang hingga saat ini belum diperiksa,” ujar Yunika, saat menggelar konferensi pers di Kantor Law Firm Graha Yusticia, Bandar Lampung, Kamis (17/12/2020).

BACA JUGA:  Buronan Kasus Curas Ditembak Tekab 308 Polres Lampung Utara

Selain itu, lanjut Yunika, hasil visum korban yang sudah satu bulan lebih, namun belum juga keluar hasilnya hingga kini.

“Biasanya, untuk perkara pencabulan atau kekerasan seksual, hasil visum hanya membutuhkan waktu beberapa minggu saja. Namun ini sudah satu bulan belum juga keluar hasil visumnya,” ungkapnya, seraya mengatakan jika selain dicabuli, T juga hampir menjadi korban pemerkosaan.

“T juga mengalami kekerasan fisik, diduga dibanting R, sehingga mengakibatkan korban memar di bagian paha, lutut kaki kiri, punggung serta kepala pusing,” urai Yunika.

Kuasa Hukum T lainnya, Frisilia Sriis Devitasari, menambahkan, seharusnya penyidik juga mendalami rekaman CCTV.

BACA JUGA:  Tingkatkan Disiplin Kerja, Chrisna Putera Menggelar Apel Gabungan Seluruh ASN dan PTHL

“Dalam rekaman CCTV di lantai 5 tersebut terlihat jelas T sedang ditarik-tarik R. Peristiwa tersebut seharusnya didalami, apa motivasi R menarik-narik tangan T,” imbuhnya.

Di sisi lain, seharusnya rangkaian kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Internasional yang baru berakhir pada 10 Desember 2020, dapat dijadikan momentum pihak Polresta Bandar Lampung untuk menangani dugaan kasus ini lebih serius dan lebih maksimal lagi.

“Kasus kekerasan seksual terhadap perempuan adalah persoalan serius. Apalagi saat ini korban mengalami traumatis, akibat diduga dilakukan oknum Satpam yang seyogyanya memberikan keamanan di lingkungan kerja,” tegas Devi.

Dia juga menyayangkan minimnya upaya perlindungan terhadap pekerja perempuan di lokasi mal tempat korban bekerja.

“Seharusnya mal tempat korban bekerja memberikan kenyamanan dan keamanan dari potensi terjadinya kekerasan seksual terhadap pekerjanya. Terutama pekerja perempuan,” tandas Devi. (*/sandi)