Pohon Kelapa Cabang Empat di Tubaba Pernah Ditawar Rp 20 Juta, Buahnya Diyakini sebagai Obat

1327

HEADLINELAMPUNG, TUBABA-Sebatang pohon kelapa di RK 05 Tiyuh Panaraganjaya Utama, Kecamatan Tulangbawang Tengah, Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba), Lampung memiliki keunikan tersendiri. Yakni, memiliki cabang mencapai empat batang dan tumbuh dengan baik.

“Pohon ini sudah tumbuh sejak saya pindah kerumah ini, tahun 1997. Akan tetapi, pada saat itu belum bercabang. Pohon ini mulai memiliki cabang pada tahun 1999. Saat itu baru bercabang dua saja,” Ujar pemilik pohon kelapa bercabang empat, Miskun (62) saat ditemui dirumahnya, Jumat (12/02/2021).

Pria beranak tiga ini menceritakan, pada awalnya banyak orang yang menduga pohon tersebut tidaklah alami, melainkan rekayasa genetika belaka. Namun, dia menegaskan hal tersebut tidak benar. Pohon tersebut benar-benar tumbuh bercabang tanpa campur tangan manusia.

BACA JUGA:  Sebanyak 197 Media Online Mendaftar Melalui Aplikasi Samber

“Ya kalau memang saya bisa buat pohon seperti itu, ya pasti saya buat banyaklah,” ungkapnya.

Pria yang kesehariannya sebagai petani karet ini menjelaskan, sudah ada beberapa orang yang mendatanginya untuk meminta buah pohon tersebut untuk dijadikan sebagai obat.

“Pada tahun 2017 silam, ada beberapa orang yang datang kesini untuk meminta buah pohon kelapa ini. Ada yang dari Kalimantan Barat, Jambi, dan Sulawesi,” kata dia.

Lebih lanjut, masyarakat sekitar juga pernah meminta buah tersebut untuk dijadikan obat. Dirinya mempersilahkan orang untuk mengambil buah tersebut tanpa diberi tarif.

BACA JUGA:  Tim Penggerak PKK Lambu Kibang Tubaba Bagikan Sayuran ke Warga

“Tetangga depan rumah saya ini dulu pernah minta buahnya untuk dijadikan obat, karena sakit parah. Alhamdulillah setelah minum air kelapa ini, sembuh. Akan tetapi, saya tidak pernah meminta tarif bagi siapapun yang meminta buahnya. Seikhlasnya saja,” tukasnya.

Selain itu, dirinya juga menuturkan, pohon kelapa berusia kurang lebih 25 tahun itu pernah ada yang ingin membelinya. Akan tetapi dia menolak hal tersebut.

“Pohon setinggi tujuh meter ini pernah mau dibayar orang Rp20 juta, tapi saya tolak. Saya memang dari dulu berniat untuk merawat pohon ini,” pungkasnya. (dra/holidin/elan)