Situasi Belum Aman, Korban Konflik Gajah di Suoh Lampung Barat Masih Mengungsi

8

HEADLINELAMPUNG, LAMPUNG BARAT – Pasca kejadian konflik gajah dan manusia yang terjadi di Pekon Sukamarga, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat (Lambar), sebanyak 27 Kepala keluarga (KK) yang menjadi korban hingga saat ini masih mengungsi.

Sudah memasuki dua pekan semenjak mereka meninggalkan pemukiman akibat dirusak oleh kawan gajah tersebut dan hingga kini belum bisa beraktivitas seperti biasa.

Camat Suoh Mandala Harto mengungkapkan, saat ini ke-27 kepala keluarga tersebut masih mengungsi di rumah kerabat yang jauh dari lokasi konflik gajah. Mereka diimbau untuk tidak kembali dulu ke lahan garapan, karena kawanan gajah masih memungkinkan untuk kembali.

BACA JUGA:  Kemenag Lampung Barat Launching MGMP Madrasah Tsanawiyah Se-Kabupaten

“Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan mereka kami imbau tetap tinggal bersama keluarga mereka yang lebih aman. Karena sewaktu-waktu kawanan gajah tersebut bisa saja kembali, terlebih daerah konflik merupakan jalur perlintasan kawanan gajah tersebut, ” ungkap Mandala, Kamis (18/2/2021).

Selain karena kondisi yang belum sepenuhnya aman, kata dia, kondisi rumah atau gubuk tempat tinggal mereka mengalami kerusakan bahkan ada sebagian yang memang mengalami kerusakan parah sehingga perlu waktu untuk perbaikan sehingga bisa kembali bisa ditempati.

“Kan rumah mereka banyak yang rusak, jadi perlu waktu untuk perbaikan, sementara perbaikannya juga menunggu situasi benar-benar aman, karena akan sangat berbahaya ketika memaksakan untuk melakukan aktivitas di lahan garapan,” kata Mandala menambahkan.

BACA JUGA:  Wabah Corona, Mulai Besok Sekolah di Lampung Barat Diliburkan

Sementara itu, kawanan gajah yang salah satunya diberi nama Bunga terpantau mulai menjauh dan mengarah ke wilayah Talang Gajah Kecamatan Bandar Negeri Suoh (BNS). Hanya saja kondisinya masih terpantau aman dan kawanan gajah berada di dalam hutan taman nasional.

“Semoga kawanan gajah tersebut bisa benar-benar menjauh dari lahan garapan masyarakat, sehingga masyarakat bisa aman dan nyaman dalam beraktivitas berkebun yang menjadi mata pencaharian mayoritas masyarakat, ” pungkasnya. (Hendri)