Tahun Ini, Produksi Kopi di Lambar Turun

7

HEADLINELAMPUNG, LAMPUNG BARAT-Produksi kopi di Kabupaten Lampung Barat (Lambar), tahun ini diprediksi turun dari tahun sebelumnya.

Hal itu banyak dirasakan oleh beberapa petani kopi di Lambar, tidak sedikit yang mengeluhkan terjadinya penurunan produksi kopi yang memang menjadi sumber mata pencaharian mayoritas masyarakat Lambar tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Perkebunan pada Disbunnak Lambar, Sumarlin mengatakan, dari beberapa tempat yang sudah mereka survey memang ada sebagian yang mengalami penurunan.

“Kalau kita ambil perbandingan dari tahun kemarin memang diprediksi turun, tapi tidak sampai sepuluh persen kalau hitungan awal, tapi kan belum semua daerah kita survey karena memang belum semua selesai panen, bahkan ada sebagian yang belum mulai,” ungkap Sumarlin, Selasa (15/6/2021).

BACA JUGA:  Pesta Miras, 30 Warga Diamankan Polsek Bangunrejo

Kalau dilihat dari yang sudah kami survey kata dia, untuk yang jenis sambung batang yang agak signifikan yakni daerah Kecamatan Balik Bukit, itu pun tidak lebih dari Sepuluh persen penurunannya, sedangkan untuk daerah lain tidak separah itu.

“Tapi Lima hingga Sepuluh persen penurunan ini sebenarnya tidak di bawah target produksi kopi Lampung Barat yang memang sudah ditentukan, karena memang tahun kemarin produksi kopi Lambar over target yang mencapai 1,14 ton per hektar, sedangkan target yang sudah ditentukan yakni berkisar 1,02 ton per hektar, diprediksi meskipun produksi tahun ini menurun tapi tidak dibawah 1,02 ton per hektar,” jelasnya.

Lanjut dia, untuk penyebabnya sendiri bisa dari banyak faktor, seperti cuaca atau intensitas hujan meningkat, dan memang dari sebagian laporan masyarakat seperti adanya hama penggerek batang yang menyebabkan batang mati juga bisa disebabkan faktor cuaca.

BACA JUGA:  LPA Lamteng Salurkan 17 Paket Bantuan untuk Korban Seksual

“Karena memang meningkatnya intensitas hujan membuat pertumbuhan hama penggerek dibeberapa tempat sangat cepat, meskipun tidak di semua tempat penyebab turunnya produksi sama, karena semakin tinggi pengaruhnya jika pemeliharaan kebunnya juga kurang maksimal, seperti naungan terlalu rimbun atau penggunaan herbisida yang masih tinggi,” ujarnya.

“Sedangkan untuk harga kopi dipasaran sejak Mei 2021 mulai beranjak naik, bahkan sempat mencapai Rp 23.000, melampaui harga basis yang berada di angka Rp 22.000 untuk kopi kualitas terbaik,” pungkasnya.(HL-Hendri)