Gubernur Arinal Kunker ke Jabar, Lihat Inovasi Teknologi Pertanian Presisi

4
Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi saat melihat langsung Inovasi Teknologi Pertanian Presisi, di Cisaat Precision Agriculture Farm, Provinsi Jawa Barat, Senin (21/11/2021). (foto: ist)

HEADLINELAMPUNG, JABAR-Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi mengunjungi Inovasi Teknologi Pertanian Presisi (ITPP) yang dinilai mampu meningkatkan produktivitas pangan, di Cisaat Precision Agriculture Farm, Provinsi Jawa Barat (Jabar), Senin (22/11/2021).

Kunjungannya kali ini, Gubernur Arinal didampingi anggota DPR RI asal Lampung, Hanan A Rozak, Plt Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kusnardi, dan Pengusaha Erwin Aksa.

Kedatangan Gubernur Arinal bersama rombongan diterima langsung Direktur Utama (Dirut) PT Buwana Selaras Investment, Widjajanto selaku pemegang lisensi sistem Lead Tech International (LTI).

Gubernur Arinal menyatakan, berkomitmen untuk pembangunan sektor pertanian di Lampung guna meningkatkan ekonomi kerakyatan. “Untuk mencapainya, maka inovasi pertanian terus dilakukan,” ujarnya.

Ditambahkan Arinal, peningkatan produktivitas pangan dapat dilakukan, karena sistem pertaniannya dilengkapi dengan teknologi yang bisa dengan tepat memenuhi kebutuhan tanaman.

Sementara itu, Widjajanto menjelaskan,
awalnya LTI menerapkan sistem pertanian presisi seluas 5 hektare di Cisaat, Kabupaten Bekasi.

BACA JUGA:  Update Kasus Covid-19 Lampung 4 Juni 2020: Positif Corona Bertambah Empat Orang, PDP Tiga

“Diantaranya, mencakup 8 unit green house yang berisi aneka sayuran dan buah (melon, kangkung, kalian, cabai, tomat, pakcoy). Kemudian, lahan terbuka berisi padi, singkong, tebu, kapas, jahe merah dan areal perkebunan berisi mangga, jeruk, lemon, alpukat, manggis, kopi, coklat hingga sagu,” ujarnya.

Selanjutnya, kata Widjajanto, diterapkan untuk lahan seluas 25 hektare
dengan sistem pertanian presisi itu, semua rumpun tanaman dialiri selang yang menyalurkan nutrisi dan air.

“Teknologi ini, bisa menghemat air hingga 40 persen, serta meningkatkan produktivitas tanaman 300 persen. Bahkan, di tanah juga dipasangi sensor. Jika padi sudah merasa “kenyang” nutrisi, maka sensor akan memberitahu untuk menghentikan aliran air dan nutrisi,” jelasnya.

Ia mengatakan, teknologi pertanian presisi ini juga sudah diterapkan di sejumlah negara di Asia, Afrika dan Timur Tengah.

Menurutnya, keberhasilan pertanian presisi ini diantaranya berkat penggunaan sejumlah pipa khusus (dripping lines), dan diikuti dengan pemasangan sensor, dan penyediaan ruang kontrol (control room).

BACA JUGA:  Polres Pringsewu Kawal Pendistribusian Vaksin Covid-19 ke Puskesmas

“Dengan teknologi ini, memungkinkan untuk memonitor kebutuhan air hingga pupuk, dari setiap tanaman yang termonitor oleh sensor. Kemudian, dari permintaan kebutuhan tersebut akan dikirimkan data ke ruang kontrol, lantas melalui algoritma yang bekerja selama 24 jam per hari akan disalurkan kebutuhan air dan pupuk sesuai permintaan tanaman,” tukasnya.

Widjajanto menyatakan, keuntungan dari sistem ini yaitu, setiap tanaman mendapatkan kondisi pertumbuhan ideal di ruang terkontrol yang kecil, dan terbatas di dalam area pertumbuhan yang lebih besar.

“Petani juga dapat menanam, tanaman yang berbeda dalam satu plot dan waktu panen lebih singkat, serta dapat terus memantau kesehatan dan kondisi tanaman. Karena, penggunaan pupuk, air sangat efektif, dan hanya membutuhkan sejumlah sensor,” tandasnya. (HL-bud/ayu/*)