views

Belanja Profesi dan Momentum HUT ke-74 PGRI dan HGN 2019

Headlinelampung.com, Penawartama – Tanggal 25 November adalah hari bersejarah bagi guru/dosen di seluruh Indonesia. Setiap tahun, pada tanggal 25 November selalu kita peringati sebagai Hari Ulang Tahun PGRI dan Hari Guru Nasional (HGN).

Hal itu tentu terjadi bukan tanpa alasan. Alasannya, karena peran guru/dosen sebagai pendidik profesional mempunyai fungsi dan kedudukan yang sangat strategis dalam pembangunan nasional bidang pendidikan.

Menyadari pentingnya peran guru/dosen bagi kemajuan bangsa Indonesia, pemerintah bersama-sama dengan DPR RI telah menempatkannya sebagai profesi dengan kedudukan terhormat. Guru/dosen adalah profesi yang perlu dilindungi hak-haknya.

Para guru dan dosen patut bersyukur, terkait dengan hal itu pemerintah dan DPR telah berhasil membuat payung hukum tentang Guru dan Dosen.

Undang-undang Guru dan Dosen (UU No. 14 Tahun 2015 pasal 14) menyatakan bahwa guru berhak memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial.

Kemudian, pada pasal 15 dijelaskan bahwa penghasilan yang dimaksud meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, serta penghasilan lain, salah satunya adalah Tunjangan Profesi Guru ( TPG ).

Sebelumnya, dalam pasal 2 disebutkan bahwa pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesional dibuktikan dengan sertifikat pendidik.

Sertifikat pendidik adalah pengakuan formal bagi guru sebagai tenaga profesional yang mengandung konsekuensi bahwa guru setidaknya harus memiliki prasyarat terdidik dan terlatih (well educated and trained), terstruktur dengan baik (well managed), terlengkapi fasilitasnya (well equipped) dan dibayar dengan layak (well paid).

Oleh karena itu pekerjaan seorang guru harus ditunjang oleh prinsip-prinsip memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme.

Atas konsekuensi itu, pemerintah dalam hal ini Mendikbud dan pejabat terkait di bawahnya dalam setiap kesempatan selalu menyampaikan harapannya supaya tunjangan profesi guru dapat berdampak pada peningkatan kompetensi dan kinerja guru dengan mutu dan hasil proses belajar peserta didik sebagai indikator keberhasilannya.

Selain itu, pemerintah juga berharap sebagian tunjangan profesi dapat diinvestasikan untuk peningkatan kompetensi guru.

Tunjangan profesi guru dapat dimanfaatkan oleh guru untuk memenuhi kebutuhan hidup, sekaligus juga untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya.

Belanja profesi yang dapat dilakukan guru menggunakan sebagian dari tunjangan profesi yang diperolehnya yaitu:

  1. Belanja peningkatan kualitas profesi. Misalnya : a. mengikuti seminar, lokakarya, workshop pendidikan yang bukan dibiayai negara minimal satu semester satu kali kegiatan.
    b. mengikuti MGMP, Peningkatan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP),
  2. Belanja media pendidikan. Misalnya pembelian laptop, computer, LCD, dan media lainnya yang berguna bagi peningkatan mutu pendidikan.
  3. Belanja penelitian. Misalnya pembuatan penelitian tindakan kelas (PTK), penelitian ilmiah, makalah dan sebagainya.
  4. Belanja peningkatan materi pendidikan. Misalnya pembelian buku materi, modul, CD materi, belanja majalah/jurnal profesi, dan sebagainya.
  5. Belanja peningkatan keterampilan guru. Misalnya kursus computer, belajar website, blog, atau keahlian lainnya (sebagai sarana menuju system pembelajaran berbasis teknologi di era industri 4.0).
  6. Belanja peningkatan mutu pendidikan lain. Misalnya studi banding, penanganan khusus bagi siswa tertentu yang menjadi binaannya, dan lain sebagainya.
  7. Belanja peningkatan literasi. Misalnya menulis buku/modul, menulis opini di surat kabar, dan lain sebagainya.

Apabila belanja profesi ini dilakukan oleh guru muaranya adalah untuk peningkatan kompetensi guru baik pada sisi kompetensi pedagogik, profesional, sosial, maupun kepribadiannya untuk mewujudkan kualitas layanan pendidikan yang lebih baik.

Bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-74 PGRI dan Hari Guru Nasional Tahun 2019 yang mengusung tema
“Peran Strategis Guru dalam
Mewujudkan SDM Indonesia Unggul”
hendaknya para guru melakukan “hijrah”, mengubah pola pikir bahwa kegiatan peningkatan kompetensi adalah “kebutuhan pribadi guru”.

Dengan demikian para guru tidak harus merasa dipaksa untuk membelanjakan sebagian dana TPG-nya untuk “belanja profesi”, tentu dalam konteks untuk meningkatkan kompetensi masing-masing.

Semoga dengan berubahnya pola pikir ini sekaligus dapat mengubah dan meningkatkan kualitas diri guru. Di samping itu juga akan berdampak pada meningkatnya kualitas belajar para peserta didik.

Pada akhirnya, tentu hal ini akan membawa perubahan bagi dunia pendidikan pada khususnya dan perubahan besar bagi bangsa Indonesia pada umumnya.
Semoga. (rus/ogi)

Bagikan ke:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kontraktor Bantah Pemberitaan Media terkait Honor Pekerja

Kam Nov 14 , 2019
Headlinelampung.com, […]