views

5,73 persen Balita Lambar Menderita Stunting

Headlinelampung, Lampung Barat – Sebagian besar masyarakat mungkin belum memahami istilah yang disebut stunting, Stunting adalah kekurangan gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak, yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Di tahun 2019, dari total 17.461 anak umur 0-59 bulan yang ada di Kabupaten Lampung Barat (Lambar), tercatat 1002 anak yang mengalami Stunting menurut pendataan melalui aplikasi elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) per 10 januari 2020 atau 5,73 persen termasuk rendah dibandingkan dengan target nasional yaitu 28 persen dalam artian balita di lampung barat masih terbilang sehat.

Menurut Erna, penanggulangan stunting diutamakan 1000 hari pertama kelahiran hidup berupa intervensi spesifik oleh sektor kesehatan yg kontribusinya adalah 30 persen dan intervensi spesifik dari lintas sektor 70 persen.

Intervensi sensitif dari lintas sektor tersebut dengan rincian seperti akses ketersediaan air bersih, jamban sehat yang dilakukan juga kepada aparat pekon, fortifikasi bahan pangan, pendidikan gizi masyarakat, pemberian pendidikan dan pola asuh dalam keluarga, pemantapan akses dan pelayanan KB, JKN dan jaminan persalinan, pemberian edukasi kesehatan reproduksi.

Dan intervensi spesifik dari sektor kesehatan yakni memberikan tablet besi folat pada bumil, PMT bumil kurang energi kalori, promosi dan konseling IMD inisiasi menyusui dini dan ASI eksklusif, PMBA pemberian makanan bayi dan anak, pemantauan pertumbuhan posyandu, imunisasi, vitamin A, pemberian taburia pada balita.

“Selain itu kita juga memberikan intervensi pendidikan ke remaja putri yang akan menjadi ibu hamil, bentuk penanganannya sendiri, untuk dibawah dua tahun masih bisa diselamatkan otaknya, tapi jika sudah lebih dari dua tahun akan susah, kemungkinan kita hanya bisa membantu fisiknya saja,” ungkapnya.

Erna menjelaskan, untuk verifikasi data dilaksanakan oleh tim dinas kesehatan dan puskesmas beserta jaringan seperti Pustu, posyandu serta bidan desa.

“Tapi memang kita memiliki kendala keterbatasan tenaga Gizi, ada 4 tenaga Gizi dari 15 puskesmas di Lambar, namun untuk menangani keterbatasan itu diberdayakan dari bidan-bidan yang ada atau tenaga kesehatan yang bukan khusus tenaga ahli Gizi,” yang sudah dilatih jelas dia.

Kemudian, untuk mengantisipasi terjadinya peningkatan Stunting di Lampung barat, Dinas Kesehatan bekerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pekon (DPMP).

Hal itu diungkapkan Kepala DPMP Lambar, Yudha Setiawan, Senin (13/01/2020).

“Salah satu himbauan Dinas PMP Lambar kepada pekon-pekon agar menganggarkan sebagian DD untuk mengantisipasi kasus Stunting yang ada di Lampung Barat,” tutur Yudha. (Hendri)

Bagikan ke:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Hendarwan Pimpin Warga Gotong-royong Bersihkan Saluran Air di Pulung Kencana

Rab Jan 15 , 2020
Headlinelampung, […]