views

Megalitic Ala Tubaba Itu ‘Luar Biasa’

HEADLINELAMPUNG, TUBABA – Sudah seminggu acara Sharing Time : Megalitic Milenium Art Kabupaten Tulangbawang Barat berlangsung. Kemeriahannya pun masih terasa.

Para seniman bule begitu menikmati. Bendera asal negara mereka terpancang gagah dalam event tersebut.

Konsepnya pun hingga sekarang masih saya kagumi. Didalam benak. Saya bertanya? Begitu sederhana kah ide cemerlang itu?.

Seharian mondar – mandir. Tepatnya, Kamis (23/01/2020). Lokasi dimana pembukaan Sharing Time : Megalithic Milenium Art digelar.

Dua tempat yang terpusatkan yakni, Las Sengok Tiyuh Karta, kecamatan Tulangbawang Udik dan Kota Budaya Uluan Nughik, Kelurahan Panaragan Jaya, kecamatan Tulangbawang Tengah.

Terpesona tentu ya. Saya berpikir karya ini memang tidak sederhana. Sangat luar biasa.

Saya sempat tertegun. Membayangkan bagaimana proses ini tercipta. Konsepnya sealur. Terkesan ribet. Tapi nyata.

Penempatan lokasinya pun tepat sekali. Mengapa bisa disini. Dan pas dan tepat sekali.
Ya. Memang pas sekali. Gumam saya dalam hati.

Pemberian nama dan penyebutannya pun begitu sakral dan unik. Luar biasa.

Las Sengok : Tempat Angker, Kota Budaya Uluan Nughik : Peradaban Baru. Benar. Keduanya begitu serasi.

Dua nama diatas adalah destinasi wisata kabupaten Tulangbawang Barat yang sengaja diciptakan. Memiliki mitologi pemikiran modern, klasik dan sejarah. Mengandung nilai kesenian dan kebudayaan yang tinggi. Hebat.

Gagasan Bupati Tulangbawang Barat Umar Ahmad hasil diskusi bersama budayawan ternama Indonesia. mbah Suprapto Suryodarmo (ALM). Terjadilah ide gagasan cemerlang menggelar diskusi kebudayaan sekelas internasional ini.

Selain itu, Umar Ahmad pun menggandeng arsitektur ahli landmark untuk mendesain destinasi wisata baru. Yang kini mulai populer.

Sebut saja, tugu Rato Nago Besanding, patung relief Megowpak, kota budaya Uluan Nughik, Sesat Agung, Taman Islamic Center, dan masjid megah 99 cahaya.

Dalam keadaan normal. Tidak mungkin Tubaba, bisa seperti ini. Tidak ada yang percaya. Tubaba bisa seperti hari ini.

Sangat pantas. Jika Tubaba harus mendapatkan pengakuan. Daerah Bukan-bukan. Menjadi daerah perlintasan dan tujuan.

Dalam sejarah. Tubaba adalah satu-satunya wilayah baru yang mampu menghadirkan beberapa negara sekaligus. Bukan karena takdir. Tapi hadirnya mereka karena suatu alur pikir yang sengaja diciptakan. Kekuatan akal. Dan rasa ingin yang kuat.

Batu- batu yang didatangkan. Penataan taman yang sinergis. Hingga rumah kuno yang di pajangkan. Jadi bukti. Jika warga Amerika, Eropa dan Asia harus datang di Tubaba.

Lima hari. 22 – 26 Januari 2020, adalah waktu pelaksanaan dan akan berakhirnya diskusi kebudayaan berkelas itu. Yang jelas. Mereka sudah tahu. Paling tidak mendengar. Tubaba adalah kota baru. Kota imajinasi sakral.

Terpesona. Kagum. Heran. Satu Kata : Luar Biasa!. (dra)

Bagikan ke:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Satlantas Polres Lampura Jadikan Perum Jenganan Sikep Pilot Project Kampung Tertib Lalu Lintas

Ming Feb 2 , 2020
HEADLINELAMPUNG, […]